image

Apakah Debat Kelima, Capres-Cawapres Mengalami Sesat Pikir? (Menakar Kadar Kearifan Politik Berwawasan Nusantara dalam Debat Kelima Capres-Cawapres)

Sesat pikir tidak dimaksudkan untuk mencari-cari kekeliruan atau kesalahan dalam berargumentasi capres-cawapres dalam proses debat terakhir, tetapi yang dimaksudkan sesat pikir dalam tulisan ini adalah jenis argumen disampaikan oleh capres-cawapres yang di atas panggung mungkin kelihatan tepat tetapi setelah dibuktikan dengan pengujian data lapangan ternyata tidak tepat. Hal ini menimbulkan kesenjangan antara realitas dan harapan atau gab antara harapan dan kenyataan. Demikian pun dalam kaitan dengan cara pandang kebangsaan Indonesia, jika menakarnya dengan budaya dan peradaban kearifan politik berwawasan nusantara, dengan tolok ukur jaminan dan komitmen terhadap NKRI, bineka tunggal ika, Pancasila dan UUD 1945, dapat kita temukan kenyataan yang bervariasi, yang berindikasi sesat pikir.
Dari sekian sesi pada debat kelima capres-cawapres ini, setiap pasangan Calon Presiden Dan Wakil Presiden memiliki persamaan dan perbedaan sudut pandang. Perbedaan pandangan dalam debat capres-cawapres dalam rangka menata kehidupan berbangsa dari sudut pandang dan strategi yang berbeda merupakan suatu kearifan dan kreativitas yang berinovasi demi mengembangkan kebersamaan dalam menjaga keutuhan bangsa. Hal ini merupakan suatu hal yang patut dibanggakan oleh seluruh warga bangsa dan menjadi teladan bagi seluruh anak bangsa. Menyikapi beda pandangan politik dengan bijaksana merupakan hal yang sangat penting dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan hal yang sangat esensial dalam membangun kebersamaan kita sebagai komunitas bangsa. Perbedaan adalah hal lumrah, termasuk dalam pandangan politik. Karenanya ini perlu disikapi dengan bijaksana, terutama menjelang pemilihan umum 17 April 2019.

Oleh sebab itu, sikap dan perilaku, paham serta semangat kebangsaan atau nasionalisme yang tinggi, merupakan identitas atau jati diri bangsa Indonesia, sebagaimana ditunjukkan oleh Calon Presiden Dan Calon Wakil Presiden kita dalam setiap sesi debat terakhir ini dalam rangka menata kehidupan bernegara berdasarkan Pancasila, Bineka Tunggal Ika, UUD 1945 dan NKRI, yang merupakan warisan budaya dan peradaban kearifan politik yang berwawasan nusantara. Dari debat pertama sampai debat terakhir sebenarnya membantu untuk mampu mentransformasikan pemilih untuk lebih terukur dan bertanggungjawab ketika menjatuhkan pilihan. Oleh sebab itu, dalam kapasitas saya sebagai anak bangsa, seperti saudara sekalian, menggunakan hak pilih pada tanggal 17 April 2019 sebagai wujud tanggungjawab moral untuk menata kehidupan bersama kita sebagai satu bangsa merupakan suatu hal yang sangat penting. Siapa pun yang terpilih sebagai presiden, Dia adalah pemimpin kita. Sebaliknya menerima kekalahan dengan lapang dada adalah budaya dan peradaban kearifan politik yang berwawasan nusantara. Oleh sebab itu saya sebagai anak bangsa, mengucapkan selamat kepada capres-cawapres yang telah melewati sesi debat dengan arif dan bijaksana untuk kepentingan keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan pancasila dan UUD 45 dan dalam semangat Bineka Tunggal Ika.

Nikolaus Anggal, M.Pd
Dosen pada Sekolah Tinggi Kateketik Pastoral Katolik Bina Insan Keuskupan Agung Samarinda Kalimantan Timur

Komentar

  • Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar