image

Dari Altar Turun ke Ladang

Ditulis oleh: Zakeus Daeng Lio
31 Mei 2019

Pagi itu pukul 06.00 Wita, suasana Kampung Long Pahangai sangat cerah. Lantaran surya di ufuk timur mulai menggeliat dari peraduannya. Ayam dan babi di kandang seolah-olah sahut menyahut membangunkan tuan untuk memberi makan.

Aku melihat di papan agenda, hari ini jadwal pelayanan untuk umat di Kampung Naharuq. Mereka hendak menutup rangkaian Doa Rosario Bulan Maria dengan Misa Syukur di Karangan tepian Sungai Meraseh. Cuaca sangat mendukung, pasti semua kegiatan berjalan sesuai rencana. "Bisik ku dalam hati".

Pukul 08.00 pagi, adik-adik misdinar telah menunggu di pelataran Pastoran. Mereka ini adalah generasi muda yang semangat dan energik. Kapan saja dipanggil pasti datang. Siap mengerjakan apapun. Meski kadang-kadang "mengomel" jika ada temanya yang tidak datang. Tetapi inilah cara remaja milenial yang menjunjung tinggi kebersamaan mereka.

Karena tahu misa akan diadakan di Karangan, mereka begitu bersemangat dan antusias mempersiapkan diri mengikuti kegiatan. "Sekalian mau mandi-mandi," ungkap salah seorang dari mereka. Tepat pukul 10.00, jemputan sudah tiba, dua perahu besar yang siap melawan arus sungai Mahakam, menghantar kami ke karangan sungai Meraseh.

Perjalanan kami kurang lebih 30 menit, melihat sungai Mahakam yang tampak stabil, membuat kami tidak sabar untuk cepat sampai di karangan. Namun ada yang aneh, ketika mulai masuk cabang sungai Meraseh, air tiba-tiba menjadi keruh. Padahal sungai Meraseh jarang keruh, meski musim hujan atau kemarau, justru sungai Mahakam yang biasanya keruh, saat ini sangat jernih.


"Rancangan ku bukanlah rancangan Mu".
Ketika ditelusuri, ternyata wilayah sungai Meraseh bagian hulu, semalam di guyur hujan deras. Akhirnya bayangan kami tentang suasana Misa di hamparan karangan Meraseh berubah. Lantaran air yang tiba-tiba pasang, memaksa umat Naharuq untuk mengungsikan semua perlengkapan Misa dan konsumsi, pindah ke Kebun Umat yang ada di atas tepi Sungai Meraseh.

Seketika itu pun, tempat Misa Penutupan Bulan Maria dan rekreasi bersama umat Naharuq di ubah ke kebun Kakao. Meski demikian, wajah mereka tetap memancarkan kegembiraan dan rasa syukur. Apapun situasinya kita tetap harus bersyukur. Siapakah kita ini yang dapat mengatur ritme alam, hanya Tuhan Sang Empunya semesta, yang dapat mengatur segala-galanya.

Ketika semua barang sudah dipindahkan, maka kami merayakan Misa di bawa Serapoh (tenda sederhana dari terpal). Kami mengungkapkan rasa syukur atas berkat dari Amai Tingai (sebutan untuk Tuhan Allah dalam Bahasa Dayak Bahau Busang) kepada umat Stasi St. Theresia Datah Suling, khususnya umat Kampung Naharuq yang secara khusus bersyukur atas berkat pertolongan doa 'Ine' Maria keluarga-keluarga mereka terberkati dan anak-anak mereka dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Nasi Bungkus Daun Pisang
Usai merayakan misa, kami disuguhkan makanan khas masyarakat hulu Mahakam yakni nasi putih yang dibungkus daun pisang dengan lauk daging babi yang dimasak pakai bambu. Kami makan bersama-sama di bawah Serapoh, rasa nikmatnya makanan membuat kami lupa semua persoalan hidup. "Pantas saja selama di Hulu Mahakam berat badan tak kunjung berkurang".

Sembari menikmati makanan yang lezat, kami mulai berbincang-bincang tentang rencana pada musim menunggal. Pada saat moment menunggal, kami berencana melaksanakan misa untuk mengawali musim menugal, dan misa di adakan di Ladang. Karena menurut salah seorang tokoh umat, musim menugal adalah moment dimana umat lebih banyak berkumpul di ladang, bahkan terkadang lebih banyak dari umat yang hadir pada perayaan misa hari Minggu di Gereja stasi.

Kita mengenal ungkapan Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung", kiranya ini menggambarkan bahwa gereja senantiasa bergerak dari Altar ke Ladang. Terobosan ini harus digiatkan kembali, sebagai salah satu bentuk gerakan pastoral yang melayani umat dimana pun mereka berada. Apalagi bagi umat yang cenderung lebih memilih tinggal di ladang karena pekerjaan mereka dan dirasa lebih nyaman. Ladang menjadi "second opini" untuk menemukan ketenangan dan kedamaian.

Di samping itu, Gereja harus tetap bergerak dan memberikan pemahaman kepada umat untuk tetap kembali bersekutu dalam sebuah jemaat besar pada Perayaan Ekaristi Hari Minggu di Gereja. Ekaristi yang dirayakan di ladang hanyalah diadakan di luar hari Minggu. Itu pun berdasarkan permintaan dan bertepatan dengan momen-momen tertentu.

Harapan gerakan pastoral Gereja, kiranya langkah ini kembali menumbuhkan semangat iman yang mulai lemah "hanyut" oleh pelbagai godaan kemajuan dunia dewasa ini. Hal ini pun dapat mempererat hubungan kekerabatan yang mulai renggang oleh banyak terpaan kepentingan yang acap mengubah saudara menjadi lawan.

Kiranya Amai Tingai merestui rencana hidup seluruh masyarakat di Ulu Mahakam, secara khusus umat Katolik yang giat membangun kehidupan iman umat. Semoga langkah pastoral yang hendak di bangun ini mendapat dukungan dan perhatian dari semua "Domba" di wilayah Paroki St. Yoseph Long Pahangai. (*)

Kalau rindu, jangan pendam di hati.
Katakan aku rindu.
Kalau rindu, jangan pergi.
Tapi datang, kembali ke Kampung.
Kalau rindu jangan diam.
Tapi ungkapkan,
lewat teriakan suka citamu
ketika merasakan segarnya
membasuh diri di sungai yang jernih.
Kalau rindu, jangan berhenti.
Tapi melangkahlah. Datang kemari,
ke tempat dimana tiada penyesalan
yang ada hanya kepuasan dan rasa syukur.

Galeri Foto


Komentar

  • Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar