image

Doa Rosario Laudato Si

Download E-BookDoa Rosario "Laudato Si" 

Pada awal Maret 2020 yang lalu, Paus Fransiskus membuat rekaman ajakan untuk kita semua, khususnya umat Katolik, menyediakan waktu tanggal 16-24 Mei 2020 sebagai Pekan Laudato Si. Hal ini bertepatan dengan ulang-tahun kelima ensiklik tentang lingkungan hidup Laudato Si yang dikeluarkan pada tanggal 24 Mei 2015. Beliau mengajak kita untuk sungguh membangun kesadaran, bertobat dan bertindak memelihara bumi seisinya, dan mewariskan bumi yang baik kepada anak-cucu kita.

Ensiklik Laudato Si memang sudah beliau sampaikan kepada kita sejak 2015, tetapi ternyata belum banyak yang sungguh memahaminya, apalagi melaksanakannya. Itulah salah satu alasan ajakan di atas. Kita tahu, permasalahan lingkungan hidup menjadi makin berat. Bukan tidak mungkin, rusaknya bumi ikut berpengaruh terhadap merebaknya pandemi corona yang sedang kita hadapi. Secara hati-hati, beliau menyatakan bahwa pandemi corona adalah respons atau tanggapan bumi atas ulah manusia yang selama ini kurang peduli. Dalam ensiklik Laudato Si, seperti juga ditekankan Bapak Ignatius Kardinal Suharyo dalam homili misa Paskah pontifikal Minggu 12 April 2020 lalu, kita perlu melakukan pertobatan ekologis.

Dalam upaya agar pertobatan ekologis bisa terwujud, yang didasari pemahaman dan kesadaran baru itu, ensiklik Laudato Si perlu lebih dikenali umat. Untuk itulah dibuat teks doa Rosario Laudato Si ini, yang mencoba mengaitkan pokok-pokok renungan setiap peristiwa dalam doa Rosario dengan beberapa isi penting dalam ensiklik Laudato Si. Upaya ini didasari pengandaian bahwa ensiklik Laudato Si adalah bimbing an iman dan spiritualitas Kristen (Katolik) tentang bumi dengan segala macam permasalahannya ini, yang tentu erat kaitannya dengan kisah keselamatan dalam Injil.

Ensiklik ini terdiri dari 6 bab (36 sub-bab, 246 paragaraf). Isinya sangat kaya dan mendalam, sehingga tidak mungkin semua dimasukkan dalam renungan peristiwa-peristiwa doa Rosario. Tentu, baik diketahui bahwa doa Rosario ini adalah doa Rosario biasa, meski isi renungannya dikaitkan dengan pokok-pokok gagasan yang ada dalam ensiklik Laudato Si.

Upaya mengintegrasikan ensiklik Laudato Si dalam renungan doa Rosario dimulai dengan merasakan nada tiap peristiwa dan mencocokkannya dengan nada gagasan yang disampaikan Paus Fransiskus dalam bab-bab dan paragraf-paragraf ensiklik itu. Dengan demikian, paragraf diacu tidak berurutan. Pun, yang kemudian di tulis sebagian besar hanyalah pokok gagasannya atau keprihatinan dasarnya. Hal itu diupayakan ditulis dengan bahasa yang lebih sederhana, yang diharapkan dapat lebih dipahami umat. Agar renungan bisa lebih mengena, di bagian akhir hampir setiap pokok renungan dibuat satu paragraf ajakan untuk merenungkan lebih dalam, atau melakukan pertobatan, atau juga melakukan satu-dua aksi yang lebih nyata, yang relevan dengan situasi kita. Meski begitu, bagi mereka yang ingin lebih membaca dan mendalaminya, dicantumkan dalam catatan kaki nomor-nomor paragraf dari ensiklik Laudato Si yang menjadi acuan. Teks ensiklik Laudato Si, baik yang berbahasa Indonesia maupun yang berhasa asing, bisa diunduh melalui internet.

Untuk seluruh proses ini, bahan baku kami siap kan berempat, masing-masing satu peristiwa, yaitu Rm. Martin Harun, OFM, Rm. Peter Kurniawan Subagyo, OMI, Rm. Ferry Sutrisna Wijaya, Pr dan saya sendiri. Setelah draft pertama saya buat, saya memohon masukan dari banyak rekan awam, yang tidak bisa saya sebut satu persatu, agar bahasa dan pesannya sungguh dapat di pahami umat. Untuk mereka itu, saya ucapkan banyak terima kasih.

Akhirnya, semoga teks doa Rosario Laudato Si ini bisa mendorong tumbuhnya pertobatan ekologis, sehingga bumi dan segala makhluk di atasnya, dapat hidup dalam damai di dalam rumah bersama ini. Berkah Allah selalu berlimpah!

Jakarta, pada hari bumi (22 April) 2020
Al. Andang L. Binawan, SJ

Komentar

  • Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar