image

IHWAL PERKAWINAN SUKU DAYAK BENUAQ KENOHAN

Ditulis oleh: Hiasintus Habibie

Perkawinan dalam pandangan suku Dayak Benuaq Kenohan yang hidup sebagai satu komunitas sejatinya memiliki nilai-nilai normatif. Perkawinan memiliki multi makna yang diungkapkan dalam bentuk simbol-simbol adat. Makna-makna tersebut seperti makna magis religius, makna ekonomis, makna sosial, dan makna yuridis. Oleh karena itu, setiap orang, keluarga, kerabat atau masyarakat berusaha untuk mewujudkannya dengan berbagai bentuk upacara dan ritual.

Perkawinan yang melalui ritual adat merupakan perkawinan yang penuh dengan berkat berlimpah, sejahtera, dan dijauhkan dari segala mara bahaya dalam menjalankan kehidupan rumah tangga. Keabsahan perkawinan bagi masyarakat adat Dayak Benuaq Kenohan harus dilakukan di hadapan alam, Tuhan, dan sesama disaksikan oleh seluruh anggota kerabat, tetangga, handai taulan, anggota masyarakat, para tetua adat kampung, dengan demikian perkawinan tersebut sah secara publik (umum) bahwa kedua diikat secara hukum adat yang berlaku, sebagai suami istri.

Perkawinan adat Dayak Benuaq Kenohan memiliki nilai sakral yang harus dipahami dan dijaga sebagai satu warisan luhur yang berlaku untuk anggota sukunya. Dalam kebudayaan Suku Dayak Benuaq Kenohan umumnya pernikahan dirayakan dengan ritual upacara sakral yang disebut Periputn Pelulukng (keseluruhan upacara perkawinan).

Tahapan Upacara Perkawinan Adat
Perkawinan adat Benuaq Kenohan terdiri dari tiga tahap utama, yaitu pembuka, pokok inti, dan penutup. Bagian pembuka terdiri dari: (1) kata pembuka dari Pelulukng/Lalakng (pemandu acara);  (2) Penyerahan keluarga mempelai. Pada bagian pokok inti terdiri dari: (1) Paper Poetn (pembacaan doa); (2) Tolak Bala; (3) Pengesahan Perkawinan; (4) Mohon Berkat; (4) Petuah dan Wejangan; (5) Penegasan Simbol-simbol Adat Pelulukng; dan Pada bagian penutup: (1) Makan bersama; dan (2) Pembagian Tanda Pengingat.

Proses Upacara Perkawinan Adat
Malam sebelum pelulukng peruku diadakan pertemuan keluarga besar bersama dengan para pengurus adat. Di hadapan luratn (jamuan makan bersama) yang ditutup dengan daun pisang dan di atasnya dibentang dengan kain batik.

Keluarga besar dari tuan rumah yang diwakili oleh salah satu anggota keluarga akan bertindak sebagai juru bicara mewakili keluarga menyatakan maksud dan tujuan hidangan makanan. Kemudian menyerahkan satu piring putih kepada kepala adat kampung untuk memulai membicarakan soal apa saja yang diperlukan dalam pernikahan yang akan dilangsungkan esok harinya.

Kepala adat berperan penting karena satu piring sudah diserahkan oleh perwakilan keluarga kepadanya dan empat piring putih untuk mengundang para staf adat kampung dan petinggi kampung serta seluruh jajarannya untuk hadir dalam upacara pelulukng serta seluruh warga kampung untuk hadir pada upacara pelulukng.

Pelulukng dilaksanakan pada pagi hari dengan perlengkapan pelulukng sudah siap di depan para pengurus adat dan mempelai yang akan dinikahkan secara adat. Upacara perkawinan dimulai dari kata pembuka oleh pembawa acara, kemudian penyerahan dari pihak keluarga mempelai pria dan penyerahan keluarga dari mempelai wanita dilanjutkan paper poetn. Setelah itu dilanjutkan dengan tisa matuk ngajar (nasehat, petuah-petuah dan wejangan dalam membangun kehidupan rumah tangga.)

Pengesahan Perkawinan Adat
Penjelasan ramu pelulukng serta penegasan tentang sahnya perkawinan kedua mempelai secara adat Benuaq Kenohan yang disaksikan oleh seluruh undangan yang hadir. Kemudian penjelasan sirat berkas dan pembagian tana rama (pengingat bahwa sama-sama telah menyaksikan periputn pelulukng, sebagi tanda peringatan bahwa perkawinan kedua mempelai telah sah secara hukum adat Dayak Benuaq Kenohan).

Keabsahan perkawinan bagi masyarakat adat Dayak Benuaq Kenohan harus dilakukan di hadapan alam, Tuhan, dan sesama disaksikan oleh seluruh anggota kerabat, tetangga, handai taulan, anggota masyarakat, para tetua adat kampung, dengan demikian perkawinan tersebut sah secara publik (umum) bahwa kedua diikat secara hukum adat yang berlaku, sebagai suami istri.

Perkawinan dinyatakan sah jika sudah melewati prosesi ritual yang panjang yang menyimbolkan mohon berkat keselamatan, kesuburan, keamanan, kesejahteraan individu maupun kelompok, kedamaian, kerukunan. Keabsahan perkawinan Dayak Benuaq Kenohan juga diskasikan oleh roh-roh leluhur kedua mempelai setelah semua selesai barulah kemudian Luratn Pelulukng di buka dan makan bersama seluruh undangan.

Upacara pelulukng secara keseluruhan menawarkan nilai-nilai kesejahteraan, keselamatan, kesakralan, yang dilihat dari keseluruhan proses sebelum, pada saat, dan sesudah upacara tersebut dilaksanakan.

Nilai dan Makna Perkawinan Adat
Nilai-nilai yang terkandung dalam pelulukng dan perkawinan Katolik adalah nilai kesetiaan yang menekankan pada kesetiaan pasangan untuk hidup sesuai dengan hukum adat. Keseluruhan makna dalam perkawinan adat memperlihatkan sikap taat dan patuh kepada hukum adat dan menjalankannya sesuai dengan apa yang berlaku dalam cara perkawinan tersebut.

Pada akhirnya nilai-nilai perkawinan adat menekan nilai cinta kasih karena jika tanpa cinta kasih semuanya hampa tak berguna. Ciri khas perkawinan Adat Dayak Benuaq Kenohan adalah menggunakan banyak simbol-simbol adat yang terdiri dari bermacam-macam jenis tumbuhan dan barang pecah belah yang masing-masing memilki makna dan nilai. Kebiasaan ini sudah ada sejak ribuan tahun yang terus dipertahankan oleh adat sebagai suatu kearifan lokal yang bersifat mengikat dibawah hukum adat Dayak Benuaq Kenohan berdasarkan tempuutn.

Salah satu keunikan dalam perkawinan adat Dayak Benuaq kedua mempelai tidak ada "komunikasi khusus pernyataan bahwa mereka telah siap mengikat diri untuk menjadi suami istri." Sifatnya hanya mendengarkan dan mengikuti seluruh proses upacara sampai selesai. (*)

Penulis: Hiasintus Habibie, Alumnus STKPK Bina Insan Keuskupan Agung Samarinda.


Editor: Lorensius Amon


Komentar

  • Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar