image

Jambore Sekami Membangun Persaudaraan Sejati

Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Kalimantan Timur Longginus, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Samarinda RD. Moses Komela Avan dan Sekretaris Daerah Kabupaten Kutai Barat Yacob Tullur menghadiri kegiatan Jambore Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (Sekami) Keuskupan Agung Samarinda di Catholic Center St. Thomas Aquinas Sendawar Kutai Barat. Selasa (25/06/2019).

Kegiatan Jambore Sekami se-Keuskupan Agung Samarinda ini dilaksanakan selama empat hari mulai tanggal 25 hingga 28 Juni 2019. Pembimas Katolik merasa bangga dan gembira atas terlaksananya kegiatan Jambore tersebut.

"Kami sungguh sangat senang dan bangga atas terlaksananya kegiatan ini, yang difasilitasi oleh Komisi KKI Keuskupan Agung Samarinda, sehingga anak-anak dapat bertemu dan berkumpul di tempat ini dengan penuh suka cita". Ungkapnya.

Ia berharap kegiatan Jambore Sekami ini menjadi bekal untuk membangun kapasitas diri, kepekaan sosial  dalam diri anak-anak sehingga kelak dapat menjadi umat Katolik yang kokoh imannya dan tangguh dalam berkarya.

"Sungguh ini adalah awal yang baik, menjadi modal dasar bagi kita untuk berharap bahwa ke depan kita akan memiliki orang-orang atau tokoh-tokoh Katolik yang kokoh imannya, bangga akan identitasnya sekaligus tangguh dan tahan segala tantangan dalam berkarya untuk Gereja". Paparnya. 

Pembimas berpesan agar Gereja turut menggalakkan "Gerakan 1821" dalam keluarga-keluarga katolik yakni para orangtua meluangkan waktu untuk bermain, belajar dan berbicara dengan anak-anaknya. 

"Ini semua menjadi dasar bagi saya untuk menawarkan bahwa kita perlu sesering mungkin memfasilitasi anak-anak untuk berjumpa dengan sesama seusianya maupun dengan Tuhan. Sekarang ada gerakan 1821 saatnya orangtua untuk belajar, bermain dan berbicara dan mendampingi anak-anaknya dalam masa pertumbuhan. Barang kali ini juga perlu kita pikirkan untuk menjadi gerakan bersama karena di beberapa tempat telah berlangsung kegiatan 1821 yang difasilitasi oleh paroki-paroki, misalnya seperti misa awal tahun pelajaran, natal dan paskah bersama pelajar, doa bersama dalam keluarga, maka kami sungguh berharap hal-hal ini bisa menjadi ajang untuk pertemuan anak-anak yang kita fasilitasi bersama". Jelasnya.

Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Samarinda RD. Moses Komela Avan juga menyampaikan pesan agar kegiatan ini dapat membangun hubungan pribadi, persahabatan, kesadaran misioner dan membangun kepedulian anak-anak terhadap sesamanya melalui doa, derma, kurban dan kesaksian sebagaimana semangat awal berdirinya serikat ini. 

"Melalui kegiatan ini kiranya mau dibangun hubungan pribadi dan persahabatan antar anak-anak, agar mereka mempunyai kepedulian untuk saling memperhatikan serta membangun kepedulian dalam diri mereka melalui doa, derma, kurban dan kesaksian untuk sesama mereka yang menderita, bahkan ada semboyan; tidak ada kekurangan yang sedemikian kurang sehingga orang tidak dapat berbagi". Jelasnya.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dan apresiasi dari Pemkab Kutai Barat disampaikan melalui Sekretaris Daerah Kabupaten Kutai Barat Yacob Tullur.

"Atas nama Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, saya sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan ini, dimana kegiatan yang pertama kali di selenggarakan ini memilih Kabupaten Kutai Barat sebagai tempat penyelenggaraan, ini suatu kehormatan bagi kami karena boleh menjadi tuan rumah bagi seluruh anak-anak Sekami se-Keuskupan Agung Samarinda". Jelasnya.

Pemerintah juga mengharapkan agar kegiatan ini dapat menjadi ajang pemersatu keragaman budaya yang ada di Kalimantan Timur, sehingga mampu menjaga dan melestarikan kearifan budaya warisan leluhur dalam bingkai cinta kasih pada sesama.

"Secara khusus dalam semangat Injil yang dibingkai dalam keragaman Budaya kiranya anak-anak Sekami se-Kalimatan Timur, selesai dari kegiatan ini nantinya dapat memiliki pemahaman bahwa kita Bineka Tunggal Ika 'Berbeda-beda tetapi tetap satu' jua. Seperti contoh di sampaikan dalam Injil Lukas, Layaknya seperti seorang Samaria yang murah hati, dimana kita bisa menabur cinta kasih dan menerapkan hukum kasih tanpa pilih kasih. Dan sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling mulia, sudah selayaknya kita tunjukan hidup kita dalam nilai-nilai kebaikan, mampu menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya warisan nenek moyang kita". tutupnya.

Penulis: Vinsensius Lai
Editor: Lorensius Amon

Komentar

  • Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar