image

Memetik Makan dari Kisah "Tamant Golang"

Ditulis oleh: Tiyo

1 Juni 2019

Pada suatu ketika, di sebuah hutan yang jauh dari perkampungan, tinggallah seorang bapak di sebuah "Dasatn" (gubuk) berdinding "Upeq" (kulit kayu), lantainya terbuat dari "Dasai Tolakn" (bilahan bambu) dan atapnya dari "Bete Etu" (anyaman daun rotan).

Di gubuk, Ia ditemani seekor Anjing, yang diberi nama Golang. Karena orang kampung tidak tahu nama sang Bapak ini, maka orang-orang memanggilnya "Tamant Golang".

Kehidupan Tamant Golang, sangat sederhana, sehari-hari Ia pergi ke hutan, untuk berburu dan mencari madu.

Untuk mengambil madu, Tamant Golang menggunakan rotan. Madu yang berada di pohon "Tanyut" (bangris) yang menjulang tinggi, dipanjat menggunakan rotan, dengan mengaitkan rotan pada dahan atau batang pohon "tanyut".

Induk lebah yang menjaga sarang, diusir menggunakan Namukn" yang sudah disiapkannya.


Pada suatu hari, Tamant Golang masuk ke hutan dan menemukan satu pohon "tanyut" yang banyak "Sarak Wani" (lebah madu).

Maka mulailah Ia menyiapkan peralatan untuk memanjat. Ia mulai mengancang-ancang, melempar rotan yang diikat pada sebuah batu, agar dapat terkait pada dahan kayu.

Lemparan pertama meleset, ketika lembaran terjatuh ternyata mengenai Golang anjing kesayangannya.

Maka berteriaklah si Golang, "gaed, gaed, gaed" sambil  berlari kesakitan. Kemudian Taman Golang berusaha menenangkan anjingnya itu.

Setelah si Golang sudah tenang, Tamant Golang mulai dengan lemparan kedua. Ternyata lemparan itu tepat sasaran, kemudian Ia mengikat rotan itu pada pohon lain sebagai fondasi untuk memanjat.

Setelah semua selesai di ikat, Tamant Golang pun mengambil namuk yang akan digunakan untuk mengusir lebah.

Saat mengambil "namukn", tanpa melihat dengan jelas, Tamant Golang langsung mengikat "namukn" pada pinggangnya. Namun, Ia merasa aneh, karena "namukn" itu bergerak-gerak.

Setelah dilihatnya, ternyata yang diikat di pinggangnya itu, seekor ular. Tamant Golang terkejut dan segera membuang ular itu ke sungai. Lalu mengambil "namukn" yang benar dan mulai memanjat.

Pada saat memanjat, tiba-tiba rotan pegangannya terputus. Tamant Golang pun jatuh, kepalanya terbentur pada batang kayu, dan langsung meninggal di tempat.


Si Golang anjing kesayangannya, yang melihat kejadian itu, menggonggong sambil mengaung-ngaung, meminta pertolongan.

Kebetulan di sekitar daerah itu, ada dua orang pemuda yang sedang berburu. Sembari asyik mengincar kancil buruan mereka, tiba-tiba mereka terdengar suara gonggongan si Golang.

Tanpa mempedulikan kancil buruan, mereka langsung berlari menuju ke arah suara Golang. Pikir mereka, "mungkin ada binatang yang lebih besar dari kancil tadi".

Ketika sudah tiba, mereka terkejut! Ternyata bukan binatang, melainkan Tamant Golang yang tergeletak tak berdaya lagi. Mereka bergegas membawa, Tamant Golang ke kampung.

Setiba di kampung, masyarakat berbondong-bondong datang. Mereka bersedih, melihat kondisi Tamant Golang yang tidak bernyawa lagi.

Akhirnya, masyarakat pun menguburkan Tamant Golang di sebuah kebun Pisang di dekat kampung. Si Golang dengan setia berada di kuburan, menunggu Sang Tuannya, sampai akhirnya si Golang pun mati di kuburan.


Memetik Makana dari Kisah
Kisah Taman Golang adalah karya sastra lisan suku Dayak Benuaq yang sejatinya sarat makna. Kita telah mendengar bagaimana gambaran bila kita hidup jauh dari orang lain. Sejatinya, sebagai manusia, kita saling membutuhkan satu sama lain. Kita tidak dapat hidup sendiri.

Kemudian, hal lain yang dapat kita petik adalah ketika kita ingin melakukan sesuatu, lalu kita di hadapi hal-hal yang aneh, maka sebaiknya kita tunda dulu keinginan kita. Karena menurut keyakinan orang Dayak, ini merupakan peringatan atau tanda yang buruk, seperti Tamant Golang yang melempar rotan terkena anjing dan mengambil namuk tetapi malah menangkap ular.

Si Golang pun dapat menjadi contoh bagaimana wujud dari sebuah kesetiaan. Ia menunjukkan kesetiaan pada tuan hingga mati bersama-sama di kubur. Kesetiaan memiliki nilai yang sangat tinggi dalam kehidupan kita, entah setia dalam perkara-perkara kecil maupun perkara-perkara yang besar. (*)

Komentar

  • Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar