image

Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Ditulis oleh: Stepanus Lugan
1 Juni 2019

Pada prinsipnya sila "kemanusiaan yang adil dan beradab, ingin menetapkan manusia sesuai dengan harkatnya sebagai mahluk Tuhan". Sikap saling harga menghargai sesama manusia itu merupakan wujud dari pada kemanusiaan yang adil dan beradab.

Selain itu, sila ini juga melahirkan sikap penghormatan dari bangsa kita kepada bangsa-bangsa yang lain. Sikap saling harga menghargai itu membuat kita 'tepa selira' atau besar rasa tenggang rasa, bukan sikap ekstrem. Dengan siap yang demikian dalam pergaulan hidup akan menjamin terwujudnya keadilan, ketentraman, keselarasan, dan kekukuhan masyarakat kita.

Pandangan Bangsa Indonesia terhadap manusia tidak menghendaki adanya penindasan manusia oleh manusia lain, baik secara lahiriah maupun secara batiniah. Pandangan hidup harus di tarik lebih jauh, sehingga kita memegang prinsip bahwa kemerdekaan adalah hak setiap bangsa, bahwa penjajahan di atas bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri-kemanusiaan dan pri-keadilan.

Bertolak dari prinsip itu pula, kita menolak rasialisme. Kemanusiaan yang adil dan beradap, jelas menuntun ke arah kehidupan yang setinggi-tingginya yang dapat di capai oleh manusia, kita menghendaki kebahagiaan rakyat yang melimpah-limpah lahir dan batin. Bukan kebahagiaan individu yang di capai dengan merugikan orang lain, melainkan kebahagiaan yang adil.

Berkerja mencapai hasil akan membuat orang memiliki harga diri dan percaya pada diri sendiri, dan berbuat baik bagi sesamanya akan membuat orang merasa memiliki martabat. Harga diri, kepercayaan pada diri sendiri, dan kesadaran akan martabatnya sebagai manusia merupakan unsur-unsur yang penting untuk memelihara semangat dan kekuatan.

Dengan demikian dapatlah dirumuskan bahwa sikap hidup seorang manusia Pancasila adalah "kepentingan pribadinya akan diselaraskan dengan kewajibannya sebagai anggota masyarakat dengan pengertian bahwa kewajibannya terhadap masyarakat hendaknya diutamakan daripada kepentingan pribadinya".

Semuanya itu dituntun oleh Ketuhanan yang Maha Esa, oleh rasa pri-kemanusiaan yang adil dan beradab, oleh kesadaran untuk memperkokoh persatuan Indonesia, untuk menjunjung tinggi sikap kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi Bangsa Indonesia.

Karena dengan sila ini kita bermaksud menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, maka "tindakan main hakim sendiri, tindakan sewenang-wenang, tindakan korupsi dan sebagainya, adalah lurus bertolak-belakang bertentangan dengan Pancasila."

Melaksanakan kemanusiaan yang adil dan beradab tidak boleh diartikan kelemahan; sebab keadilan dan peradaban justru menuntut tindakan terhadap mereka yang bersalah, dan menuntut perlindungan kepada yang lemah; tetapi, semua tindakan itu harus adil berdasarkan hukum dan setimpal dengan kesalehannya.

Dalam masyarakat kita yang berdasarkan Pancasila maka kegiatan-kegiatan sosial dan kegiatan yang bersifat kemanusiaan harus kita perluas, dengan makin banyak mengamalkan Pancasila dalam kehidupan nyata kita sehari-hari, baik hal itu merupakan kegiatan yang besar maupun langkah-langkah yang kecil, maka Pancasila akan makin meresap kedalam pikiran dan perasaan kita.

Dengan demikian Pancasila akan makin mendalam dan benar-benar kita hayati sebagai pandangan hidup yang akan memberi arah dan bimbingan terhadap segala tingkah laku kita, baik secara pribadi maupun dalam lingkungan masyarakat luas. (*)

Selamat Hari Lahir Pancasila!

Komentar

  • Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar