image

Perayaan Minggu Palma: Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Hari ini, Minggu (14/4/2019), bertepatan dengan Minggu Palma, yang dirayakan oleh umat Katolik di seluruh penjuru dunia. Sekolah Tinggi Kateketik Pastoral Katolik (STKPK) Bina Insan Keuskupan Agung Samarinda, sebagai Perguruan Tinggi Agama Katolik turut merayakan perayaan tersebut oleh segenap sivitas akademika yang dilaksanakan di Aula St. Helena Gedung Kampus Lantai 4.
(Foto: Lorensius Amon)
Minggu palma merupakan minggu yang diperingati sebagai pembukaan sebelum memasuki Pekan Suci Paskah. Perayaan ini merujuk pada peristiwa yang dicatat pada empat Injil, yaitu Markus 11:1-11, Matius 21:1-11, Lukas 19:28-44 dan Yohanes 12:12-19. Keempat Injil secara bervariasi menceritakan tentang Yesus dielu-elukan oleh para murid dan orang banyak ketika memasuki kota Yerusalem sebelum akhirnya dia disalib. Namun, satu-satunya Injil yang menyebutkan pemakaian daun palma adalah Yohanes 12:13 Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru: Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!

Menurut catatan Egeria mengenai liturgi di Yerusalem sekitar abad ke-empat, sudah ada perarakan dengan ranting palma dan zaitun pada Hari Minggu Palma untuk mengenangkan peristiwa Yesus dielu-elukan ketika memasuki kota Yerusalem. Biasanya pada sore Hari Minggu itu umat berkumpul di bukit zaitun dan sekitar jam 5 sore di atas bukit itu mereka mendengarkan pemakluman Injil mengenai masuknya Yesus secara mulia ke kota Yerusalem. Setelah itu mereka berarak menuju pusat kota Yerusalem. Anak-anak juga turut serta dalam perarakan sambil membawa ranting palma dan zaitun. Kemudian cara perayaan seperti ini mulai dibuat juga di Spanyol (abad ke-lima), di Gallia (abad ke-tujuh) dan di Roma (abad ke-sebelas). Berdasarkan tradisi ini, dapatlah dimengerti mengapa sebaiknya daun palma dipakai meskipun bukanlah satu-satunya yang diberkati dan digunakan dalam perarakan. Dapat pula dipakai ranting zaitun atau ranting hijau lain (terutama kalau di wilayah bersangkutan tidak ada tumbuhan palma) dan boleh juga janur, bila ada kemiripan makna simbolisnya.

Disebutkan, ketika Yesus memasuki kota, warga kota menyambutnya dengan melambai-lambaikan daun palma. Daun palma merupakan simbol kemenangan, dan ketika dilambaikan berarti sebagai pujian serta kemuliaan. Daun palma juga digunakan untuk menyatakan kemenangan martir atas kematian. Lebih jelas lagi, hal itu diasosiasikan dengan kejayaan-Nya memasuki Yerusalem, (Yohanes 12:12-13).
Daun palma memiliki warna hijau, yang mana hijau adalah warna dari tumbuh-tumbuhan dan musim semi. Oleh karena itu simbol kemenangan dari musim semi atas musim salju atau kehidupan atas kematian, menjadi sebuah campuran dari kuning dan biru itu juga melambangkan amal dan registrasi dari pekerjaan jiwa yang baik.

Saat Minggu Palma, umat melambai-lambaikan daun palma sambil bernyanyi. Hal ini menyatakan keikutsertaan umat bersama Yesus dalam arak-arakan menuju Yerusalem.Ini menyatakan tujuan yang akan dicapai pada masa yang akan datang: kota Allah, di mana ada kedamaian. Setelah melakukan prosesi perarakan daun palma (melambai-lambaikan daun palma), segenap umat yang hadir mendengarkan pembacaan kisah-kisah sengsara Yesus yang diambil dari Injil Luk 23:1-49. Pembacaan kisah sengsara Yesus dalam liturgi Minggu Palma dimaksudkan agar umat mengerti bahwa kemuliaan Yesus bukan hanya terletak pada kejayaan-Nya memasuki Yerusalem melainkan pada peristiwa kematian-Nya di kayu salib. (*)

Lorensius Amon

Komentar

  • Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar