image

Refleksi Pastoral (1): Hidup atau Mati, Kita Milik Tuhan

Hidup atau mati, kita milik Tuhan (bdk. Rm 14: 8), kutipan dari ungkap Rasul Paulus ini menjadi pesan yang meneguhkan bagi kami para pekerja Pastoral yang bertugas di Hulu Riam, Sungai Mahakam. Medan dan tantangan alam yang amat sulit membuat hati selalu tidak tenang ketika melakukan perjalanan pastoral milir mudik sungai Mahakam. Wilayah pedalaman hulu sungai Mahakam memang menjanjikan pemandangan alam yang eksotis dan indah untuk dinikmati. Namun ketika nasib kurang beruntung, seakan ada "harga" yang harus dibayar mahal. Tidak hanya ongkos transportasinya yang membuat kantong langsung "kering", tetapi juga tantangan riam-riam sungai Mahakam pun kerap harus dibayar dengan nyawa. Maut terus mengintai dan meminta korban di setiap Riam yang didaki Longboat ataupun Speedboat yang mematok harga kian memekikkan telinga. 

Perjalanan yang serba salah, keadaan sungai yang tak menentu, entah dalam keadaan pasang atau surut, riam sungai Mahakam selalu menyajikan tantangan yang terasa mendekatkan kita pada Sang Pemberi Kehidupan. Kiranya tantangan serupa juga dihadapi oleh Rasul Paulus pada masanya, para misionaris dan imam-imam terdahulu. Kendati banyak perbedaan dalam hal perubahan dan kemajuan zaman.

Sudah puluhan tahun Indonesia merdeka, namun tampaknya buah dari kemerdekaan bangsa ini, yang dituangkan pada Sila Kelima dalam Pancasila: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia belum seutuhnya dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di Ulu Riam. Dengan adanya pemekaran wilayah hulu Mahakam menjadi Kabupaten Mahakam Ulu, tentunya menjadi tantangan baru bagi masyarakat pedalaman. Kesiapan sumber daya manusia menjadi hal utama, agar tidak menjadi bagian dari bangsa ini, yang di jajah di tanah sendiri karena keterbelakangan yang dialami selama ini.

Kembali pada Hidup atau mati, kita milik Tuhan, ungkapan ini menjadi kata peneguhan bagi kami yang memberi diri untuk melayani umat yang ada dua Paroki perbatasan yakni Paroki St. Yosep Long Pahangai dan Paroki St. Paulus Tiong Ohang. Motto para Pastor Kevikepan Mahakam Ulu, "Tabah dan Bahagia" menjadi ungkapan ringkas yang meneguhkan dan membahagiakan. Kami serasa memiliki pegangan di kala lelah, putus asa dan bahkan merasa sendiri dalam melayani umat di tempat ini. Meski sudah berusaha dan berjuang memberikan yang terbaik, namun tidak membawa perubahan yang signifikan. Tetap tabah dan bahagia dalam mengemban tugas membantu Bapa Uskup menggembalakan domba-dombanya di wilayah perbatasan.


Para imam yang berkarya di wilayah pedalaman Sungai Mahakam tetap optimis, kendatipun menghadapi medan yang berat dan amat sulit, kami percaya Tuhan pasti membuka jalan. Semoga pemegang amat Rakyat cepat merespons keadaan geografis Ulu Riam yang "kritis sentuhan" agar dapat berlari mengimbangi wilayah lain yang sudah maju dan berkembang dengan baik. Mahakam masih terus menjadi tantangan dalam karya Pastoral Gereja, namun tak ada yang perlu ditakuti. Mengutip seruan Ayub, "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan" (Ayub 1:21). Di mana pun, kapan pun dan dengan cara apapun, kita pasti akan kembali pada-Nya. Namun, saat ini yang terbaik adalah melayani dengan tabah dan bahagia untuk Gereja sebagai umat Allah.

Long Pahangai, 5 April 2019.
RD. Zakeus Daeng Lio

Komentar

  • Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar