image

Refleksi Pastoral (2): Perayaan Syukur Panen Padi

Perayaan syukur panen padi di kalangan masyarakat Dayak di Kampung Long Pahangai merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun. Kampung yang masyarakatnya mayoritas umat beragama Katolik ini secara turun temurun terus mewarisi dan merawat tradisi ini sebagai bentuk ungkapan iman yang khas sebagai suku Dayak. Tradisi lokal sebagai bentuk manifestasi iman umat ini, sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat. Ungkapan syukur yang dirayakan dalam perayaan Ekaristi tidak hanya dilakukan pada saat selesai panen padi, tetapi juga pada saat hendak membuka lahan perladangan masyarakat.
(Suasana Perayaan Syukur Panen Masyarakat Long Pahangai)
Foto: Zakeus Daeng Lio

Kegiatan syukuran atas panen padi oleh masyarakat Dayak di Kampung Long Pahangai turut melibatkan banyak pihak, dan semua antusias dalam persiapan hingga pelaksanaannya. Mulai dari lembaga adat, baik lembaga adat kampung maupun lembaga adat kecamatan dan seluruh masyarkat saling bahu membahu untuk melaksanakan kegiatan syukur panen ini. Rencana kegiatan tersebut disampaikan kepada Pastor Paroki St. Yosep Long Pahangai, agar diadakan perayaan Ekaristi dalam acara tersebut.

Tradisi ini membawa dampak positif bagi perkembangan Gereja dalam upaya menyelaraskan antara kegiatan keagamaan dan pelbagai ritual adat yang diadakan oleh masyarakat. Manifestasi iman pada syukuran panen ini diwujudkan dalam bentuk persembahan yang mereka sebut persembahan tahunan, dimana tiap-tiap kelapa keluarga, mempersembahkan satu kaleng padi hasil panenan untuk Tuhan yang diserahkan kepada Pastor Paroki. Hal ini juga merupakan salah satu bentuk dari program pastoral Keuskupan Agung Samarinda yang telah disepakati dalam hasil musyawarah pastoral tentang kemandirian dana Paroki.

Pada akhir perayaan Ekaristi: Syukur atas panen padi baru, Pastor yang memimpin Ekaristi memberkati benih padi yang akan ditanam di ladang pada tahun berikutnya, selain itu juga diadakan pemberkatan bagi alat-alat pertanian berupa lingga, mandau dan lain-lain yang digunakan selama masa pemeliharaan ladang dan sampai selesainya panen. Pada kesempatan yang sama, Kepala Adat Long Pahangai juga turut menjelaskan makna upacara Adat yang telah dilakukan sebagai bentuk tradisi yang harus terus dirawat dan diwariskan agar generasi muda dapat memahami, meneruskan, dan merawat warisan budaya yang sarat makna ini secara turun temurun.


RD. Zakeus Daeng Lio

Komentar

  • Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar