image

Tidak Ada Teman Yang Sejati, Tidak Ada Musuh Yang Abadi.

Ditulis oleh: Alfred Fidelis Ngaga

09 Oktober 2019

Teman adalah orang yang selalu ada, di saat seribu satu orang melupakan mu. Teman itu tidak semuanya harus sama, cukup sama-sama mengerti, saling percaya, dan menghargai. Seorang teman tidak bisa disebut sebagai teman sampai ia diuji dalam tiga keadaan:

Pertama, saat kamu membutuhkannya, mungkin kata ini pas untuk seorang teman yang kita anggap sebagai teman sejati namun pada dasarnya teman yang baik adalah mereka yang mengerti tentang keadaan kita baik dalam keadaan susah maupun sebaliknya. Teman yang baik adalah mereka yang mengerti betul tentang apa yang diinginkan oleh kita sebagai temanya sendiri. Dalam hal ini kita perlu membedakan mana yang mengerti betul tentang keadaan kita dan mana yang hanya mengutamakan kesenangan semata.

Kedua, bagaimana sikap yang ia lakukan di belakangmu, teman yang baik adalah mereka yang paham dengan keadaan kita dalam berbagai kondisi dan mengambil tindakan yang bijaksana terhadap keadaan kita. Mungkin didepan ia mengatakan kita adalah teman yang baik namun di belakang kita ia hanya menginginkan sesuatu dari apa yang kita miliki. Tipe teman seperti ini adalah teman yang munafik.

Ketiga, bagaimana sikapnya setelah kematian mu, kita mungkin berbicara tentang kematian namun dari hal itu kita dapat melihat bagaimana teman yang sejati adalah teman yang menjadi bagian dari hidup kita, bukan hanya semata-mata menginginkan sesuatu yang mungkin tidak diketahui oleh orang lain tetapi juga bagaimana kita sebagai teman dapat ikut ambil bagian dalam penderitaan hidupnya.

Jika yang kamu cari adalah seorang teman yang sempurna, maka kamu tidak akan pernah mempunyai teman. Amsal (27:10) berbicara jangan kau tinggalkan temanmu dan teman ayahmu. Jangan datang di rumah saudaramu pada waktu engkau malang. Lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh.  
Ya, saya mau mengatakan Alkitab adalah teman terbaik mu saat ini, jika kamu merasa kehilangan teman-teman dekat mu. Seperti kalimat yang tertera pada kutipan Amsal, mungkin teman yang kita anggap baik akan pergi pada saat kita dalam keadaan susah, namun sebaliknya peliharalah hubungan baik dengan tetangga mu, kelak tetangga akan lebih baik dari pada seorang yang kamu anggap teman sejati. 

Musuh berasal dari bahasa latin inimicus yang dapat berarti bersifat tidak ramah atau bersahabat adalah istilah untuk sesuatu yang dipandang sebagai yang akan merugikan atau menjadi sebuah ancaman bagi yang lain. Istilah ini biasanya digunakan dalam konteks yang lebih besar dari sebuah peperangan yang menujukan kelompok bertentangan sebagai bersifat abadi.

Kata ini memungkinkan kita untuk berfikir bahwa tidak ada musuh yang abadi musuh yang abadi ada pada diri kita yaitu kebiasaan yang kita miliki, baik kebiasaan buruk maupun kebisaan baik dalam kehidupan kita. Mengapa saya mengatakan musuh itu tidak abadi karena sejatinya musuh yang abadi adalah diri kita sendiri.
Diri kita sendiri bahkan yang paling berbahaya dari sekian banyak yang kita anggap musuh. Bagian dari diri kita yang selalu merasa paling benar dan paling baik. Tiap hari kita sibuk menyalahkan dan bahkan menceritakan keburukan orang lain. 

Sejatinya teman yang baik adalah Dia yang selalu mengasihi mu setiap waktu, Ia tidak pernah tertidur karena menjaga mu, bahkan Ia tetap menerima mu meski kamu dalam keadaan dosa sekalipun, Dialah Yesus sahabat sejati. Musuh terbesar adalah diri kita sendiri, lawanlah Dia, teguh dalam iman dan pengharapan. (*)

Komentar

  • Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar