image

Tradisi Panen Madu Suku Dayak Punan Segah

Ditulis oleh: Paulus Ngau

12 Oktober 2019

Di Kalimantan, khususnya daerah Kabupaten Berau, masyarakat suku Dayak Punan Segah memanfaatkan madu hutan sebagai salah satu komoditas unggulan masyarakat yang hidup dan tinggal di sekitar dalam kawasan hutan. Madu adalah cairan yang dihasilkan oleh lebah hutan (Apis dorsata), dipanen dari sarang lebah yang menempel pada dahan pohon kayu. Selain terdapat pada dahan dan cabang pohon kayu, sarang lebah madu juga dapat ditemukan pada ceruk di tebing bebatuan. 

Suku Dayak Punan Segah menyebut lebah ini Unyai. Bagi mereka, madu yang dihasilkan oleh Unyai sangat banyak manfaatnya, baik untuk di konsumsi sendiri, untuk keperluan obat-obatan, maupun untuk dijual. Madu memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat suku Dayak Punan.

Unyai biasanya bersarang pada pohon kayu Wahi (mangeris), pohon kayu Pasmuk (Koompasia excelsa), pohon kayu Gu Ha (Ara), pohon kayu Wahay (Kapur) dan masih banyak lagi kayu yang lainnya. 

Pada larva sarang Unyai terdapat anak-anak unyai yang dapat di jadikan makanan. Sehingga tidak heran, pada saat musim panen madu, suku Dayak Punan tidak meninggalkan sisa sedikit pun sarang unyai pada pohon kayu. 

Berbeda halnya dengan suku lain yang juga ada di hulu sungai Segah, seperti Melayu Berau, Dayak Lebo dan Dayak Gaai. Pada saat panen madu, mereka hanya mengambil bagian kepala sarang yang berisi madu saja. Tujuannya untuk menjaga kelangsungan hidup koloni lebah. Jika masih ada sisa sarang, lebah tidak membutuhkan waktu lama untuk membangun kembali sarangnya. Hal ini akan mempersingkat jarak panen berikutnya. 

Tradisi memanen madu unyai ini dilakukan pada malam hari. Menurut kepercayaan suku Punan, panen madu yang dilakukan pada malam hari akan terhindar dari sengatan unyai.

Pohon kayu tempat sarang unyai bersarang di panjat menggunakan rotan. Setela sampai pada batang pohon utama, maka dilakukan Gui Hing, setelah selesai pemasangannya maka akan mulai dilakukan pengasapan dan bunga api pada sarang lebah agar lebah mengejar cahaya yang terjatuh. 

Panen unai juga harus dilakukan secara berkelompok dan semua yang ikut dalam proses panen madu akan mendapat Na Dih (bagiannya masing-masing). Hal yang menarik dari tradisi suku Dayak Punan memanen madu yakni terdapat ritual dengan melantunkan syair-syair lagu dalam bahasa daerah khas suku Punan. Usai panen madu, mereka juga melakukan ritual Ii Anjun sebagai ungkapan syukur atas kelimpahan yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Pohon-pohon sarang lebah madu hutan dimiliki secara pribadi atau keluarga. Uniknya, kepemilikan didasarkan kepada siapa yang pertama kali melihat, menemukan dan merawatnya. 

Sebagai bukti klaim kepemilikan, penemu akan memberi tanda berupa pembersihan di sekitar pohon pusaka berbentuk piringan melingkar, membuang pohon-pohon perambah dan memberi tanda di batang pohon dengan bacokan parang atau kayu kecil yang ditancapkan di dekat batang pohon. Meskipun terlihat sederhana, metode kepemilikan ini sangat dihormati oleh anggota masyarakat lainnya. (*)

Komentar

  • Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar