image

Transisi Identitas Suku Dayak Punan Segah

Ditulis oleh: Paulus Ngau

Suku Dayak Punan
Suku Dayak adalah penduduk asli yang sebagian besar menyebar di pedalaman pulau Kalimantan. Wilayah keberadaan suku Dayak seperti kita ketahui terbagi menjadi beberapa wilayah seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara. Michael Coomans (1987: 53) menuliskan bahwa istilah Dayak adalah istilah bagi penduduk yang tinggal di pedalaman untuk membedakan dengan suku melayu yang mendiami daerah pesisir.

Para peneliti kebudayaan dayak salah satunya Florus (2005:86) menyebutkan pula bahwa suku Dayak termasuk rumpun bangsa Austronesia yang bermigrasi ke Asia Tenggara antara tahun 2500 SM 1500 SM. Migrasi tersebut bermula dari beberapa daerah sekitar Cina, kemudian menuju Indonesia melalui Malaysia Barat ke Sumatera, Jawa, Bali, dan sebagian ke Kalimantan yang termasuk ras Monggoloid.

Migrasi suku Dayak berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang dan dibedakan menjadi Proto-Melayu (melayu tua) dan Deutro-Melayu (melayu muda) untuk menunjukkan gelombang perpindahan mereka. Migrasi gelombang pertama terjadi sekitar tahun 300 SM di zaman Neolithikum, gelombang ke dua setelah kebudayaan logam (Soaduon Sitorus, dkk 2004: 4).

Suku Dayak di Kalimantan sejatinya suku yang heterogen, karena setiap sub suku umumnya mengidentifikasi komunitas mereka dengan nama daerah di mana mereka tinggal. Seperti halnya suku Dayak Punan Segah yang ada di pedalaman sungai Segah, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Menurut riwayatnya, pada zaman dahulu suku Dayak Punan hidup di dalam hutan mereka belum mengenal rumah dan belum mengenal cara bercocok tanam. Mereka lebih suka berburu binatang di hutan, menangkap ikan di air, mengambi umbut rotan, umbut enau dan mencari buah-buahan dari hutan untuk kebutuhan makanan mereka. Suku Dayak Punan mempunyai ketergantungan hidup yang sangat tinggi pada hutan.

Pada masa lalu, pemerintah telah melabelkan mereka sebagai suku terasing yang hidup berpindah-pindah di dalam hutan dan tidak punya tempat tinggal menetap. Namun seiring waktu, perkembangan pembangunan dan arus modernisasi telah terjadi dinamika sosial budaya pada suku Dayak Punan (Dounias dkk, 2004). Menurut  Kuhn dkk (2000), sejak akhir abad 19 suku Dayak Punan mulai bermukim di kampung-kampung kecil, dan awal abad 20 suku Punan mulai mengenal sistem perladangan dan membuat kebun sebagaimana suku Dayak pada umumnya.

Berdasarkan sensus yang dilakukan oleh Lembaga Center for International Forestry Research (CIFOR) dari tahun 2002 hingga 2003 di Kalimantan Timur, suku Punan mencapai 8.956 jiwa yang tersebar di 77 lokasi pemukiman atau desa dan 6 kabupaten. Berikut peta penyebarannya:

Sumber: Potret Punan Kalimantan, 2004
Mitologi Dayak Punan Segah
Menurut tutur leluhur, dahulu kala suku Dayak Punan Segah memiliki hubungan yang sangat dekat dengan para Dewa. Bahkan karena kedekatan itu, orang Punan dapat meminta apa saja yang mereka inginkan, misalnya memanggil bintang dari di dalam hutan maupun memanggil ikan di dalam air untuk makanan mereka.  Kehidupan sangat harmonis, sistem kekerabatan antar sesama sangat dijunjung tinggi, terlebih menghormati kepala suku dan para tetua adat. Karena bagi mereka kepala suku adalah orang yang diberi kepercayaan penuh oleh para Dewa untuk menyimpan kesaktian warisan leluhur mereka.

Para Dewa melindungi suku Punan Segah karena dianggap sebagai manusia sahabat para dewa. Para Dewa memberikan tempat tinggal bagi suku Punan Segah sebuah Pohon Durian yang tinggi dengan diameter yang sangat besar, terletak di tengah hutan belantara di hulu sungai Segah, di atas pohon itulah para suku Dayak Punah Segah berkumpul. Pohon Durian tersebut adalah pohon ajaib, meski hujan, panas dan badai datang, suku Dayak Punan Segah yang ada di atas pohon tidak basah, dan pohon tidak tumbang atau bergoyang sedikitpun.

Suatu ketika, nenek moyang mereka turun dari langit ke bumi dan menemui mereka di atas pohon Durian, para roh nenek moyang yang datang menyerahkan barang-barang pusaka miliki mereka kepada kelapa suku Dayak Punan yakni sebuah "Centong"  (sendok nasi) yang terbuat dari kayu ulin, sepotong paha Babi salai dan sepotong kepala Burung Enggang. Kemudian para nenek moyang berkata kepada mereka "jaga dan rawatlah benda-benda pusaka ini dan gunakan dengan baik untuk kebutuhan hidup suku Punan" pesan mereka, kemudian kembali ke langit.

Pusaka yang diwariskan kepada mereka digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Pada saat mereka lapar, maka kepala suku tinggal memukul sendok nasi di batang pohon durian sambil membaca mantra maka datanglah nasi yang masih hangat kehadapan mereka masing-masing. Kemudian paha Babi dipukul-pukul, maka datanglah daging Babi yang sudah masak dan tinggal makan. Kepala burung Enggang dipukul-pukul ke batang Durian, maka muncullah berbagai jenis daging burung yang sudah matang dan empuk. Mereka makan sampai kenyang dan puas.

Suku Dayak Punan sangat istimewa bagi para Dewa. Kehidupan mereka dijamin, dan mereka memiliki berbagai keahlian, seperti misalnya saat mengambil dan mengolah sagu. Orang Punan tidak perlu menebang pohon sagu, mereka cukup melubangi batang pohon maka keluarlah sagu yang siap di pakai untuk masak, bahkan mereka tidak perlu menginjak tanah saat mengambil sagu, karena kesaktian mereka. Kehidupan demikian berlangsung ratusan tahun. Mereka hidup sangat bahagia, warisan nenek moyang diwariskan turun temurun dan mereka masih tinggal di atas pohon durian.
Sumber Ilustrasi Foto: https://kaltim.antaranews.com
Pada suatu masa, ketika suku-suku lain datang ke hulu sungai Segah, mereka menemukan bahwa ada kelompok suku Punan yang hidup di atas pohon, kehidupan mereka sangat sejahtera. Maka suku-suku lain ini berusaha menemukan keistimewaan suku Punan yang hidup sejahtera dan berlimpah kebutuhan makanan di atas pohon itu, dan mereka berusahan mencari cara untuk merebutnya.

Suatu ketika, cerita tentang kehidupan suku Punan semakin ramai di bicarakan di kampung-kampung yang ada di sepanjang tepi sungai Segah hingga ke pesisir pantai. Suku-suku mulai berusaha merebut pusaka suku Dayak Punan Segah itu. Dengan kampak-kampak yang besar dan tajam, mereka mau menebang pohon tempat tinggal orang Punan, namun tidak ada yang berhasil, bahkan sedikitpun pohon itu tidak berbekas karena kampak mereka.

Bahkan salah seorang kesatria suku Dayak namanya "Bah Gai" yang datang merebut pusaka itu dengan membawa kampak pusaka miliknya, meski lebih sakti dari suku-suku lain, setiap kali kampak "Bah Gai" menyentuh pohon itu, seketika itu juga bekas kampak yang melukai pohon pulih kembali, hingga Bah Gai menyerah dan pulang dengan kecewa.

Beberapa tahun kemudian, ada seorang kesatria yang terkenal karena kesaktian yang dimilikinya, Ia tahu bahwa hanya ada satu kampak yang bisa merobohkan pohon durian itu, yakni kampak sakti nging langit yang ada di tepi langit. Maka pergilah Ia mencuri kampak itu. Setelah mendapatkan kapak nging langit, kesatria itu perlahan-lahan berhasil melukai pohon itu hingga hampir roboh.

Melihat kejadian itu, maka ketakutanlah suku Punan yang ada di atas pohon. Kemudian kepala suku Punan turun dari singasana, dan meminta kesatria itu menghentikan perbuatannya. Tetapi, kesatria itu mau berhenti bila kepala suku mau menuruti permintaannya, yakni menyerahkan pusaka suku Punan. Maka dengan berat hati, kepala suku menyerahkan pusaka-pusaka itu, demi keselamatan suku Punan.

Semenjak pusaka itu diambil dari orang Punan, kehidupan mereka mulai berubah, tidak semudah dulu lagi. Untuk mendapatkan kebutuhan hidup sehari-hari mereka harus bekerja keras di dalam hutan. Pohon sagu milik mereka pun sudah di rusak, dan mereka tidak mudah mendapatkan sagu lagi. Akhirnya, suku Punan pun meninggalkan pohon itu, mencari kehidupan baru di tempat lain. Mereka menyebar di dalam hutan-hutan, pergi ke bagian paling hulu sungai Segah (Long Lamas), dengan harapan tidak ada orang yang dapat mengganggu mereka lagi.
Sumber Ilustrasi Foto: http://www.misterpangalayo.com
Puluhan tahun kemudian, sempat tersiar kabar, bahwa orang yang mengambil pusaka mereka sudah tidak berdaya lagi karena sakit. Pusaka yang diambil tidak dapat digunakan, malah membuat dirinya sakit yang tak kunjung sembuh, meski sempat menyesali perbuatannya, Ia tidak bisa mengembalikan pusaka itu lagi.

Seiring waktu suku Punan Segah semakin bertambah, untuk memenuhi kebutuhan hidup di "Long Lemas" mulai berkurang. Mereka mulai menyebar ke beberapa wilayah dalam kelompok-kelompok kecil, ada yang ke Long Ayap, Long Pay, Melinau dan Long Yin dan beberapa masih bertahan di Long Lamas namun tidak lama, mereka juga pindah ke Long Okeng.

Peradaban Suku Dayak Punan Segah
Tersebarnya suku Dayak Punan Segah turut membuka pula perjumpaan suku Dayak Punan dengan aneka suku lain. Dialog kehidupan dengan budaya "baru" memudarkan jati diri dan kebanggaan terhadap identitas kultural mereka, tidak heran bila kita masih bingung dengan klasifikasi sub suku Punan. Demikian pun tak dapat dipungkiri bahwa derasnya arus perubahan menyeret orang Punan ke arah ketidakpastian terhadap jati diri mereka di masa depan.

Tradisi kehidupan suku Punan yang diwariskan secara turun temurun kepada anak cucu mereka menunjukkan bahwa mereka adalah manusia yang memiliki relasi sosial dan religius. Karena sejatinya, setiap tahap kehidupan, mulai dari masa lampau hingga saat ini, mereka tetap ada dan harus diakui sebagai bagian dari peradaban suku yang hidup di pulau Borneo ini.

Pedestrian sebagai ruang aktivitas publik telah menjadi arena konflik kepentingan. Ironisnya, aparatus pemerintah pun abai dan cenderung melakukan pembiaran terhadap kelompok suku ini. Budaya suku Punan sejak lama telah mengenal berbagai kekayaan alam dari hutan yang mereka miliki. Namun kini mereka harus keluar dari keterpencilan untuk sekedar mencari pekerjaan di negeri orang (merantau ke Malaysia) menjadi salah satu pilihan mereka. Bahkan dengan masuknya berbagai perusahaan komersial, banyak dari mereka telah menjual lahan penghidupan untuk mendapatkan uang (Levang dkk. 2004).

Sebagian besar pemukiman atau desa-desa suku Punan belum mendapat fasilitas yang memadai untuk menunjang perekonomian dan peningkatan SDM mereka. Suku Punan telah berupaya beradaptasi untuk meningkatkan kesejahteraannya, tetapi selalu tersingkirkan oleh ketatnya persaingan di kota yang menuntut SDM yang lebih baik.  Inilah yang menyebabkan terjadinya pergeseran tatanan sosial dikalangan suku Dayak Punan.
Sumber foto: https://korankaltim.com "sungai Segah tercemar"
Penutup
Kehidupan suku Dayak Punan dengan berbagai peristiwa yang mereka alami sejatinya merupakan suatu bentuk transisi yang berada di persimpangan jalan. Antara menuju kehidupan yang sejahtera, atau malah berujung pada keterpurukan. Kehidupan mereka dari masa lampau hingga kini, terus merasakan kegetiran, transformasi gaya hidup sebagai bentuk dari revitalisasi kehidupan kebudayaan mereka.

Kesadaran tersebut muncul sebagai suatu strategi dalam menghadapi kesulitan dan tekanan hidup mereka yang terus mengancam. Transformasi identitas mereka lakukan untuk memposisikan diri dalam satu arena sosial, di mana hal itu dilakukan untuk mengakomodir peluang agar mereka dapat memperjuangkan hak hidup mereka.

Mereka yang hidup di pedalaman merasa terenggut jati dirinya, kekayaan warisan leluhur yang mereka miliki salah satunya adalah alam, tidak dapat lagi manfaatkan secara bebas. Akibat masuknya perusahan-perusahaan komersial. Bagi suku Dayak Punan, apalah artinya sebuah perubahan dan perkembangan yang di sebut modernisasi jika menghancurkan peradaban masa lampau dan tidak menciptakan hidup yang berkelanjutan. (*)

Sumber Rujukan

Coomans, Mikhail. 1987. Manusia Daya Dahulu, Sekarang, Masa Depan, PT. Gramedia, Jakarta.
Florus, Paulus, Djuweng, Stephanus, Bamba, John, Andasputra, Nico. 1994. Kebudayaan Dayak Aktualisasi dan Transformasi, LPPS KWI, Institute Dayakologi Research and Development dan PT. Grasindo, Jakarta.
Kuhn, C., Katz, E. dan Levang, P. 2000. At home in the forest: the Punan people of the Malinau river. CIFOR and IRD, Bogor.
Levang, P., Dounias, E. dan Sitorus, S. 2004. Out of forest, out of poverty? In Proceedings of the International Conference Rural Livelihoods, Forests and Biodiversity, Bonn, 19-23 May 2003.
Roedy Haryo Widjono AMZ, Dilema Transformasi Budaya Dayak, 2017. Lembaga Literasi Dayak, Palangkaraya.
 
Penulis: Paulus Ngau
Editor: Lorensius Amon

Komentar

  • Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar